Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Saturday, January 3, 2015

Tahu Gejrot di lingkungan Perumahan Elite

Cibarusah.com - Disaat semua media memenengok dan memberitakan Jatuhnya Pesawat Air Asia, kini Cibarusah.com menenggok sisi ekonomi lemah di kawasan Perumahan Citra Indah, Jonggol -Bogor Jawa Barat.

Perumahan Citra Indah adalah Perumahan terkenal dan ternama di wilayah Jonggol. Di sisi lain dari perumahan yang isinya orang orang kaya, namun masih ada sisi lain tentang ekonomi lemah. Disini cibarusah.com menyoroti tentang pedagang tahu gejrot yang ada di jalan raya perumahan citra indah tersebut.

Awalnya karena rasa kangen terhadap makanan tahu gejrot, maka di wilayah Cibarusah di obok obok buat menemukan si penjual tahu gejrot. Karena tak kunjung menemukan si penjual, maka penulis punya ide untuk mengunjungi tukang tahu gejrot yang biasa mangkal di jalan masuk perumahan Citra Indah tersebut.

Dari seringnya lewat perumahan citra indah ini, maka sudah di pastikan si penjual tahu gejrot ada di wilayah perumahan Citra Indah tersebut. Biasanya tukang tahu gejrot di perumahan ini tidak hanya 1 Orang di perumahan ini. Namun saat cibarusah .com berkunjung hanya ada 1 orang penjual tahu gejrot. Penjual tahu gejrot biasanya berasal dari daerah Cirebon. Dan kebetulan yang jualan di jalan perumahn Citra indah ini juga dari Cirebon.

Tahu Gejrot rasanya emang unik. Ada manisnya, ada gurihnya dan ada pedasnya. tahu yang di gunakan adalah tahu Sumedang atau tahu kopong. Bumbu yang di gunakan untuk membuat tahu gejrot adalah sambal yang di airi dengan air gula jawa. Bahan sambalnya adalah cabe hijau, bawang merah, bawang putih , garam dan air larutan gula jawa(Gula merah) .Tahu Gejrot di sajikan dengan piring kecil dari tanah liat berwarna kecoklatan. Dalam satu porsi tahu gejrot seharga Rp 5000,- dan juga melayani harga permintaan.

Bapak Tua penjual tahu gejrot yang berasal dari Cirebon seperti tampak seperti di gambar halaman ini, setiap harinya meraup untung dari penjualan tahu gejrot dan bisa menghidupi keluarganya. Jualan tahu gejrot ini di lakukan sebagai pekerjaan tetap atau profesi tetap. Konsumen dari tahu gejrot berasal dari dalam perumahan dan juga dari luar perumahan Citra Indah. Inilah sisi lain di kehidupan yang terlihat mewah masih ada sisi lain yang bukan dari kehidupan mewah, namun bersinergi dan saling membutuhkan. Antara yang berpenghasilan tinggi dan yang berpenghasilan rendah.(ntm)
Posted by: Jeng Yanti CIBARUSAH.COM Updated at: 10:54 PM

Friday, September 14, 2012

Runtuhnya Perusahaan- Perusahaan Raksasa Jepang - The Death of Samurai

Runtuhnya perusahaan- perusahaan raksasa Jepang seperti Sony, Sanyo , Toshiba, Sharp, Panasonic sepertinya bisa kita jadi tips untuk memotivasi diri kita dan bangsa kita agar tidak terjebak pada "3 hal Error" yang di ulas dari tulisan Mr. Yodhia Antariksa di situs http://www.strategimanajemen.net  tertanggal 3 September 2012 lalu berjudul The Death of Samurai. Dari uraiannya sangat jelas dan bisa memotivasi diri kita untuk bisa membuat atau melakukan  inovasi dan tidak terjebak dalam Harmoni dan Konsesus,Seniority, serta Old Nation. Berikut ini kami berikan copy paste dari artikel Yodhia Antariksa berjudul The Death of Samurai.

"Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih.
Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati).
Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di Senin pagi ini, kita akan coba menelisiknya.
Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol.
What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai pelajaran.

Faktor 1 : Harmony Culture Error. Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus.
Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo.
Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi).
Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouch.

Faktor 2 : Seniority Error. Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan.
Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan.
Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman.
Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.

Faktor 3 : Old Nation Error. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun.
Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua.
Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat. Ada comfort zone yang bersemayam dalam raga manajer-manajer senior dan tua itu.
Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama : nafas inovasi akan selalu berjalan dengan tersengal-sengal.
Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal pada tiga elemen diatas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam bayang-bayang kematian.
"

Posted by: Jeng Yanti CIBARUSAH.COM Updated at: 1:20 PM